Langsung ke konten utama

Postingan

03. A person's crash landing (3)

Setelah menghabiskan seluruh pagi untuk merapikan catatan di buku, aku memutuskan untuk memanfaatkan waktu sendirian ini dengan melakukan satu kekonyolan tambahan. “Jendela Status.” Tentu saja, tidak ada jendela transparan yang muncul mendadak atau deretan teks yang melayang di depan mataku. Aku sempat mengira telah menjadi sosok hebat seperti protagonis dalam novel-novel transmigrasi, namun kenyataannya terasa dingin, bahkan membeku. Rasa malu akibat kepercayaan diri yang berlebihan itu mulai menjalar, membuat pipi dan area mataku terasa panas terbakar. Sebaiknya aku pergi makan saja. * "Pangeran, saya membawakan buku-buku yang sekiranya layak untuk Anda baca. Selain itu, Yang Mulia Kaisar telah memberikan izin bagi Anda untuk berjalan-jalan di taman kapan pun Anda mau." "Terima kasih, itu kabar bagus." Setelah menempuh rute yang sama dengan waktu sarapan untuk makan siang, pelayan muda yang tadi pagi mengantarkan tasku datang membawa beberapa buk...

02. A person's crash landing (2)

Aku merapal namaku sendiri, 'Jung Jesse', di dalam hati. "Pangeran?" Tatapan Benjamin dan para pelayan kini tertuju padaku. Aku hanya bisa berdiri mematung, kehilangan kata-kata. Sosok fiksi yang memiliki nama yang sama denganku, dan seseorang yang aku kenali... Satu-satunya kandidat adalah ' Jesse Venetian '. "Ah……." Pandanganku mendadak memutih, dan rasa pening yang hebat menyerang. Rasanya seolah seluruh darah di kepalaku tersedot habis, menyisakan sensasi dingin yang merayap. "Pangeran!" "Anda baik-baik saja?" Suara Benjamin yang panik bersahutan dengan nada cemas para pelayan muda. Aku terhuyung, nyaris ambruk, sebelum akhirnya berhasil bertumpu pada sandaran lengan sofa. Aku duduk perlahan. Saat aku mendongak, rasa pening itu mulai mereda, namun pemandangan di depanku kini terasa jauh lebih nyata dan mengerikan dibandingkan sebelumnya. Aku butuh waktu untuk menjernihkan situasi ini. Melihat wajah-waja...