Langsung ke konten utama

When the Third Wheel Strikes Back


Aku terbawa ke dalam novel fantasi romantis yang dibaca adik perempuanku, bukan sebagai pemeran utama pria, tetapi sebagai pemeran utama pria kedua. Jika aku tidak salah ingat, si berandal ini ditakdirkan untuk berperang di masa depan dan mati menggantikan pemeran utama pria.

Oke, aku sudah mengambil keputusan. Jangan mendekati karakter utama dan tetaplah sehat sampai aku bisa pulang.


Penulis: Sook-im
Judul asli : 서브 남주가 파업하면 생기는 일


Daftar Isi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

01. A person's crash landing (1)

"Jung Eun-seo!" Aku berteriak sekencang-kencangnya sambil terduduk tegak di atas ranjang. Padahal biasanya aku tidur nyenyak tanpa pernah mengigau, tapi entah mengapa kali ini aku langsung meneriakkan nama adik perempuanku begitu terjaga. Meskipun terbangun dengan heboh, tubuhku terasa sangat segar. Tidak terasa seperti habis ketindihan atau salah posisi tidur. "Pangeran." Sial, aku tersentak. Bahuku bergidik ngeri karena terkejut. Saat aku menoleh ke arah sumber suara, mataku menangkap sosok asing yang berdiri di sana. "Siapa Anda? Kenapa bisa ada di rumah sa—" "Apakah Anda tidur dengan nyenyak?" "Hah?" Ternyata tidak hanya satu orang. Sekelompok orang asing dengan beragam warna kulit, rambut, dan iris mata yang mencolok berdiri memperhatikanku. Ada yang memegang baskom perak yang berkilauan, ada yang berdiri di sampingnya membawa handuk putih bersih, dan ada pula yang... "Satu jam lagi adalah waktu sarapan. ...

02. A person's crash landing (2)

Aku merapal namaku sendiri, 'Jung Jesse', di dalam hati. "Pangeran?" Tatapan Benjamin dan para pelayan kini tertuju padaku. Aku hanya bisa berdiri mematung, kehilangan kata-kata. Sosok fiksi yang memiliki nama yang sama denganku, dan seseorang yang aku kenali... Satu-satunya kandidat adalah ' Jesse Venetian '. "Ah……." Pandanganku mendadak memutih, dan rasa pening yang hebat menyerang. Rasanya seolah seluruh darah di kepalaku tersedot habis, menyisakan sensasi dingin yang merayap. "Pangeran!" "Anda baik-baik saja?" Suara Benjamin yang panik bersahutan dengan nada cemas para pelayan muda. Aku terhuyung, nyaris ambruk, sebelum akhirnya berhasil bertumpu pada sandaran lengan sofa. Aku duduk perlahan. Saat aku mendongak, rasa pening itu mulai mereda, namun pemandangan di depanku kini terasa jauh lebih nyata dan mengerikan dibandingkan sebelumnya. Aku butuh waktu untuk menjernihkan situasi ini. Melihat wajah-waja...