Aku berteriak sekencang-kencangnya sambil terduduk tegak di atas
ranjang.
Padahal biasanya aku tidur nyenyak tanpa pernah mengigau, tapi entah mengapa kali ini aku langsung meneriakkan nama adik perempuanku begitu terjaga.
Meskipun terbangun dengan heboh, tubuhku terasa sangat segar. Tidak
terasa seperti habis ketindihan atau salah posisi tidur.
"Pangeran."
Sial, aku tersentak. Bahuku bergidik ngeri karena terkejut.
Saat aku menoleh ke arah sumber suara, mataku menangkap sosok
asing yang berdiri di sana.
"Siapa Anda? Kenapa bisa ada di rumah sa—"
"Apakah Anda tidur dengan nyenyak?"
"Hah?"
Ternyata tidak hanya satu orang.
Sekelompok orang asing dengan beragam warna kulit, rambut, dan iris mata yang mencolok berdiri memperhatikanku.
Ada yang memegang baskom perak
yang berkilauan, ada yang berdiri di sampingnya membawa handuk putih bersih,
dan ada pula yang...
"Satu jam lagi adalah waktu sarapan. Mari membasuh wajah dan
menyikat gigi terlebih dahulu."
"Hah?"
Ketika manusia benar-benar berada dalam kondisi bingung,
satu-satunya kata yang sanggup keluar dari mulut hanyalah "Hah?".
Satu-satunya kalimat yang terlintas di otak pun hanya "Hah?". Itulah
kondisiku saat ini.
Apa ini kamera tersembunyi? Apa Eun-seo mendaftarkan namaku ke
stasiun televisi untuk acara prank?
Otakku yang baru saja bangun berusaha keras mencari jawaban paling
masuk akal di tengah kekacauan ini.
"Sepertinya Anda masih belum sepenuhnya terjaga."
"Memang begitu, tapi..."
"Wajar saja, Anda pasti masih kelelahan setelah perjalanan
jauh. Perjalanan yang Anda tempuh sangatlah panjang."
Kelelahan setelah perjalanan? Apa lagi ini? Apa acara varietas
zaman sekarang memang seniat ini saat melakukan prank?
Bagiku yang hidupnya hanya berputar di antara rumah dan kantor, latar belakang ini terasa terlalu detail untuk bisa kuterima mentah-mentah.
Di
mana Eun-seo? Apa dia sedang menontonku dari semacam ruang kendali?
"Itu... di mana ini sebenarnya?"
Aku berusaha membuka suara setenang mungkin.
Tidak banyak pilihan pertanyaan yang bisa kuajukan. Karena saat
aku mengedarkan pandangan, ruangan ini jelas bukan kamarku, bukan juga ruang
tamu rumahku.
Aku berada di sebuah ruangan seluas seluruh rumahku, di atas
tempat tidur sebesar kamar kos temanku, dan di sekelilingnya tertata furnitur
yang siapapun tahu harganya sangat mahal.
Lalu, apa itu yang ada di dinding? Jangan bilang itu emas
sungguhan.
"Anda sepertinya memang sangat kelelahan."
Pria paruh baya yang pertama kali menyapaku menjawab dengan suara
formal.
Begitu dia memberi isyarat mata kepada salah satu orang di
sampingnya, seorang remaja laki-laki dengan sigap menangkap maksud tersebut. Ia
menuangkan air ke dalam gelas kaca transparan dan menyodorkannya padaku.
"Sebaiknya Anda memulihkan kesadaran terlebih dahulu."
"Ah, terima kasih."
Tanpa sadar aku menerima gelas itu dan meminum isinya hingga
setengah.
Barulah setelah itu aku menyadari betapa bodohnya tindakanku tadi.
Bagaimana kalau itu bukan air? Kenapa aku langsung meminumnya begitu saja?
Jangan-jangan... ini benar-benar penculikan?
*
Kesimpulannya, itu hanyalah air biasa.
Dan ini bukanlah penculikan, apalagi acara televisi.
Ini adalah transmigrasi.
"Ah."
Wajah yang terpantul di permukaan air basuhan itu benar-benar orang asing.
Adalah sebuah keajaiban aku bisa melewati situasi itu hanya dengan
satu gumaman "Ah". Padahal, di dalam hati, aku sudah melompat-lompat
dan berteriak histeris. Telapak tanganku mulai basah oleh keringat dingin.
"Apakah Anda ingin ganti pakaian sekarang?"
"……Ya."
Aku menjawab dengan patuh setelah selesai membasuh wajah dan menyikat gigi.
Berperilaku aneh hingga menimbulkan kecurigaan, atau merengek minta pulang, adalah tindakan yang bahkan tidak akan dilakukan oleh anak sekolah dasar sekalipun.
Tadi aku masih bisa beralasan karena baru bangun tidur, tapi sekarang tidak lagi.
Untuk saat ini, yang terpenting adalah
memahami situasiku dengan akurat dan menyusun rencana.
"Permisi, Pangeran."
Dua atau tiga pelayan yang tampak masih muda mendekat dan mulai
membantuku berpakaian. Biasanya, aku tidak akan membiarkan orang asing
menyentuh tubuhku, tapi karena situasinya terlalu absurd, aku hanya bisa diam
menerima pelayanan mereka.
Dalam novel-novel tentang transmigrasi, sering muncul deskripsi bahwa 'semuanya terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi'.
Dan ternyata, itu benar adanya. Aku tidak perlu mencubit pipiku untuk tahu bahwa ini nyata.
Tekstur kain yang menyentuh kulit dan suara gesekan kerah baju, semuanya terasa
sangat hidup.
"Apakah ada yang terasa tidak nyaman? Pakaian ini dibuat oleh
penjahit kekaisaran dengan merujuk pada pakaian santai dari keluarga kerajaan
Kerajaan Suci."
"Pas sekali. Tidak apa-apa."
Aku meraba bahu dan lingkar pinggang yang pas secara ajaib, sambil mencoba mengumpulkan petunjuk di dalam kepala.
Melihat dekorasi interior bangunan dan pakaian orang-orang di sini, jelas ini adalah dunia dengan latar belakang 'Fantasi Abad Pertengahan'.
Aku segera menghapus judul web novel <I
thought I died, but I was a Conqueror> yang kubaca kemarin dari daftar
kandidat, novel itu bercerita tentang protagonis yang masuk ke tubuh kaisar
Romawi Kuno.
"Ini cerminnya."
Agar aku bisa memeriksa penampilanku dengan pakaian baru, pria
paruh baya itu memerintahkan para pelayan untuk membawa cermin besar setinggi
tubuh.
Aku menarik napas pendek. Tadi, pantulan di permukaan air hanya
meyakinkanku bahwa tubuh ini bukan milikku. Jika aku melihat rupanya secara
detail, mungkinkah aku akan langsung tahu di mana aku berada?
"……Hmm."
"Apakah Anda menyukainya?"
Tubuh yang tegap, rambut pirang cerah dengan mata berwarna ungu.
Saat aku mencoba tersenyum tipis, sudut bibirku terangkat dengan apik.
Seorang pemuda yang siapapun akan menyebutnya tampan sedang menatapku dari balik cermin.
Tidak, apa-apaan ini……
"Ya, terima kasih," gumamku asal.
Terlepas dari suka atau tidaknya aku pada penampilan ini, orang dengan wajah seperti ini kemungkinan besar adalah tokoh utama.
Namun, tidak ada protagonis berambut pirang dalam karya yang pernah kubaca, tren saat ini adalah rambut hitam.
Jika begitu, kemungkinan besar 'aku' adalah sahabat protagonis, rekan, saingan, atau mungkin tokoh pendamping penting sekelas bos menengah.
Pikiranku menjadi rumit. Jalan untuk pulang saja belum jelas,
apalagi jika aku harus memainkan peran penting di sini.
"Kalau begitu, mari kita pergi untuk sarapan. Saya akan
memandu Anda."
Aku mengangguk dalam diam. Sebelum melangkah pergi, aku mencuri
pandang sekali lagi ke arah cermin.
Tingginya hampir sama denganku…… Eh?
“……Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.”
"Pangeran?"
"Ah, maaf. Bukan apa-apa."
Aku menjawab seadanya dan mengikuti pria paruh baya itu, dengan para pelayan mengekor di belakangku.
Aku merapikan pikiran saat melewati
jendela raksasa yang memproyeksikan taman yang luas.
Pertama, tubuh yang aku tempati ini adalah seorang 'Pangeran' dari 'Kerajaan Suci'.
Wajahnya terasa akrab, tapi aku tidak tahu siapa dia.
Aku belum mendengar nama pangeran ini maupun nama resmi kerajaannya.
Aku juga tidak tahu apa tujuanku berkunjung ke sini.
Karena di sini ada 'Keluarga Kekaisaran', ini pasti sebuah Kekaisaran yang dipimpin Kaisar, tapi aku pun tidak tahu nama negaranya.
"Lewat sini."
Pria paruh baya itu membuka pintu ruang makan dan menuntunku ke
sebuah meja makan raksasa, lalu menarikkan kursi dengan gerakan yang sangat
teratur.
"Minuman apa yang Anda inginkan sebagai pendamping? Kami
telah menyiapkan berbagai macam biji kopi dari benua selatan dan daun teh dari
wilayah utara."
Pria paruh baya yang mendominasi seluruh percakapan dan jadwal sejak aku membuka mata ini memperkenalkan dirinya sebagai 'Benjamin Girardin'.
Ia menambahkan, 'Meskipun saya masih kurang dalam banyak hal, saya memimpin para pelayan di Istana Juliette ini'.
Namun, baik nama orang itu maupun nama
istananya terasa sangat asing bagiku. Sial.
"Saya minta teh herbal saja."
Baru setelah berucap, aku menyadari fakta bahwa aku berada di tubuh orang lain.
Tubuh asliku menderita maag kronis, sehingga aku tidak bisa mencerna kafein, alkohol, apalagi minuman bersoda dengan nyaman.
Jadi, aku memesan seperti apa yang biasa kulakukan di kafe…… padahal tubuh ini mungkin baik-baik saja.
Sempat terlintas pikiran impulsif apakah seharusnya aku meminta segelas anggur saja.
"……Saya yang kurang teliti. Baik, saya mengerti."
Wajah Benjamin, yang sejak tadi tidak terbaca ekspresinya, tampak sedikit goyah karena jawabanku.
Khawatir jika aku melakukan kesalahan, aku melirik ke arah pelayan lainnya. Namun, ekspresi mereka juga tidak kalah aneh.
Mereka tampak seperti kagum, sekaligus terkejut.
Apa teh satu cangkir saja harus seheboh ini?
"Kami telah menyiapkan teh chamomile."
"Terima kasih."
Setelah para pelayan bergerak sibuk, muncullah teko teh dengan uap
hangat yang mengepul dari corongnya beserta cangkir teh.
"Apakah makanannya sesuai dengan selera Anda?"
"Ya, enak. Bumbunya pas sekali."
Aku tidak berbohong. Roti hangat yang baru dipanggang, sup yang lembut seperti krim, saus dressing yang belum pernah kurasakan sebelumnya, hidangan daging yang harum, hingga buah-buahan segar. Ini adalah sarapan yang memanjakan mata sekaligus lidah.
Orang-orang yang membangunkanku, memandikanku, bahkan memberiku baju baru ini rasanya tidak mungkin menaruh racun dalam makanan sekarang. Jadi, aku menikmati hidangan itu dengan tenang.
Bukankah perut harus kenyang agar otak bisa berpikir lebih baik dan aku punya
tenaga untuk pulang?
"Anda menikmatinya sampai bersih."
Benjamin berucap dengan nada bicara yang seolah tidak menyangka.
Begitu tersadar, aku baru menyadari bahwa aku tengah menggaruk
dasar piring salad dengan garpu.
Meskipun aku adalah orang dari dunia lain, rasanya tidak sopan
jika bersikap seperti ini. Aku pun bergegas meletakkan alat makanku dengan
rapi.
"Haha, sepertinya aku sangat lelah karena perjalanan jauh.
Aku makan lebih banyak dari biasanya. Terima kasih, makanannya sangat
enak."
Aku menggunakan kembali alasan yang tadi diucapkan Benjamin. Entah
berapa jauh jarak dari Kerajaan Suci ke tempat ini, tapi kalau penduduk lokal
bilang perjalanannya jauh, ya berarti memang jauh.
"Kalau begitu, apakah hidangan penutupnya perlu saya
batalkan?"
"Ah, tidak perlu. Masih ada ruang tersendiri di perut untuk
makanan penutup."
*
Untuk hidangan penutup, aku meminum teh rooibos hangat sambil
menghabiskan egg tart yang penuh dengan isian custard.
Saat aku menggigit potongan ketiga, para pelayan sampai
mengeluarkan gumaman "Wah" kagum—mungkin mereka juga jadi ingin
mencicipinya.
"Kenyangnya……"
Kembali ke kamar, aku menenggelamkan diri di sofa dan menyelimuti
tubuh dengan kain yang diberikan Benjamin. Samar-samar, aku mendengar suara
tawa kecil dari para pelayan.
Yah, meski aku tidak berniat mencarinya, sepertinya aku gagal
memberikan kesan pertama yang karismatik.
"Pangeran, apakah Anda ingin saya bawakan beberapa buku untuk
dibaca?"
"Ya, terima kasih."
Seorang pelayan muda menyapa dengan ramah, dan aku langsung menyambut tawaran itu.
Buku adalah ide bagus. Apa pun tidak masalah, selama aku
bisa mendapatkan petunjuk tentang tempat ini.
Aku sempat khawatir jangan-jangan aku tidak masuk ke dalam web novel, melainkan jenis konten lain yang sama sekali berbeda.
Namun, instingku mengatakan itu salah.
Aku hampir tidak pernah membaca webtoon atau komik lagi sejak lulus SMA.
Aku memang sesekali menonton film atau drama bersama keluarga,
tapi aku tidak ingat pernah menonton drama sejarah dengan pemandangan seperti
ini belakangan ini.
Setelah usia dua puluh, aku juga menjauh dari karya sastra murni, dan kalau harus membayangkan ini sebagai dunia musikal, rasanya terlalu jauh.
Aku tidak mau terjebak dalam asumsi suram bahwa aku terlempar ke 'dunia antah
berantah' yang bukan merupakan karya ciptaan seseorang.
Pada akhirnya, pilihannya hanya tinggal web novel.
Masalahnya,
jumlah judul yang kupindai selama perjalanan berangkat-pulang kerja tidaklah
sedikit, jadi sampai sekarang aku masih belum bisa menebaknya.
"Apa jadwal berikutnya?" tanyaku pada Benjamin.
Sambil berjalan bolak-balik antara kamar dan ruang makan tadi, aku sudah mengamati dengan teliti hiasan di koridor hingga pola ukiran pada perabotan, tapi tidak ada satu pun yang membantu.
Lambang yang terukir di ujung
sendok dan pisau pun baru pertama kali kulihat.
Sekarang, aku perlu sedikit lebih agresif.
"……Tidak ada jadwal berikutnya."
Apa itu? Barusan dia terlihat sedikit canggung, bukan?
"Karena Anda baru tiba larut malam kemarin, Yang Mulia Kaisar
menitahkan agar Anda beristirahat total hari ini."
"Baiklah. Kalau begitu, jadwal besok?"
Hening. Benar-benar tidak ada jawaban. Pasti ada sesuatu.
Sikap Benjamin yang sempurna dan terlihat seperti karakter pelayan pria tipikal itu sempat goyah sesaat.
Sebaliknya, pikiranku justru perlahan
menjadi jernih.
"Apakah aku akan beristirahat sepanjang minggu ini?"
"Ya."
"Tapi sepertinya membosankan jika hanya berada di istana ini
saja. Bolehkah aku melihat-lihat tempat lain?"
Pertanyaan terakhir itu terlontar hampir karena insting.
Sebagai pangeran asing yang menginap di istana, sangat mencurigakan jika tidak ada agenda diplomatik sama sekali.
Ekspresi Benjamin saat memberitahukan hal itu
juga terasa mengganjal.
"Mohon maaf, hal itu tidak memungkinkan, Pangeran."
"Kenapa?"
Begitu mata kami bertemu, tak lama kemudian dia sedikit menurunkan
pandangannya.
"Jika Anda merasa sangat jenuh, sekadar berjalan-jalan di
taman mungkin masih diperbolehkan."
"Syukurlah. Kalau begitu, apakah Anda tahu jadwal
kepulanganku?"
"……."
Begitu rupanya. Pangeran ini sedang dikurung.
Datang sebatang kara ke tempat yang jauh dari tanah airnya, dan disekap di istana yang mungkin saja kosong.
Pelayanannya memang tidak buruk,
tapi bahkan untuk berjalan-jalan pun, aku harus meminta izin dari pelayan.
Jika begitu, jawabannya hanya satu.
"Aku ingin segera jalan-jalan untuk melancarkan pencernaan.
Tadi kulihat dari jendela, tamannya sangat indah."
Aku telah menjadi sandera.
"……Saya akan menyampaikannya kepada atasan terlebih
dahulu."
Setelah aku mengangguk, Benjamin berbicara dengan nada rendah
kepada salah satu pelayan.
"Temuilah Tuan Capuçon di Istana Romero, sampaikan bahwa
Pangeran Jesse meminta izin untuk berjalan-jalan di taman."
Aku langsung melonjak bangun dari sofa.
Aku tidak bisa mempercayai apa yang baru saja kudengar. Napasku terasa
sesak karena rasa syok yang luar biasa.
'Jesse' adalah namaku.
***
Note : ‘Yeseo’ dan ‘Jesse’ memiliki penulisan yang sama dalam hangul, yaitu 예서. Jika ditulis dengan huruf abjad, seharusnya menjadi ‘Yeseo’. Demi kebutuhan cerita, aku akan pake ‘Jesse’ dan mungkin akan merubahnya jika terdapat penjelasan dalam alur cerita.
Komentar
Posting Komentar